Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Perpaduan antara orang, fasilitas, teknologi media, prosedur dan pengendalian yang bertujuan untuk mengolah data menjadi informasi yang berguna sebagai dasar bagi pengambilan keputusan yang tepat, disebut dengan sistem informasi. Sistem informasi yang digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam suatu perusahaan harus berkualitas. Informasi yang mempunyai kualitas baik dari sebuah sistem harus memenuhi karakteristik-karakteristik tertentu. Menurut Anwar (2004), manajemen data yang efektif (effective management of the data) merupakan karakteristik yang perlu diperhatikan dalam sistem informasi. Hal yang perlu diperhatikan meliputi waktu mengup-date file, akurasi input data, pemeliharaan kesatuan data yang disimpan dalam sistem, keperluan keamanan data yang sudah digunakan, serta fasilitas back-up yang memadai.

Data memiliki arti yang sangat penting bagi kelangsungan suatu perusahaan. Perusahaan membutuhkan penyusunan data baik agar dapat membantu para pengusaha maupun manajernya dalam mengambil sebuah keputusan. Data yang baik dapat disusun dalam sebuah database (basis data). Database memiliki arti penting dalam perusahaan agar dapat mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisa data bisnis perusahaan. Database dianggap sangat penting, karena beberapa fungsinya yang meliputi:

  1. Sebagai komponen utama atau penting dalam sistem informasi, karena merupakan dasar dalam menyediakan informasi.
  2. Menentukan kualitas informasi yaitu cepat, akurat, dan relevan, sehingga infromasi yang disajikan tidak basi. Informasi dapat dikatakan bernilai bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan dengan biaya mendapatkanya.
  3. Mengatasi kerangkapan data (redundancy data).
  4. Menghindari terjadinya inkonsistensi data.
  5. Mengatasi kesulitan dalam mengakses data.
  6. Menyusun format yang standar dari sebuah data.

Perkembangan teknologi komunikasi modern yang saat ini terjadi, misalnya internet dapat mengantarkan beragam dinamika yang terjadi di dunia nyata sehingga dapat ditransfer ke dunia virtual. Hal ini dapat terjadi dalam bentuk transaksi elektronik, contohnya: e-business, e-banking atau komunikasi dijital seperti e-mail dan messenger. Selain aspek positif yang dibawa oleh kemajuan teknologi komunikasi modern, ada juga aspek negatif yang bisa terjadi, contohnya: pencurian, pemalsuan, penggelapan.

Informasi sebuah perusahaan mengandung nilai ekonomis maupun strategis, agar obyek kepemilikan dapat dijaga dengan baik, maka dibutuhkan metoda pengamanan. Keamanan data sangat dibutuhkan untuk mencegah dampak negatif yang dihasilkan oleh perkembangan teknologi. Sistem informasi sangatlah rentan terhadap berbagai gangguan keamanan yang dapat mengancam kelangsungan suatu organisasi atau perusahaan. Pentingnya keamanan sistem dapat dikarenakan beberapa hal yaitu: (1) Sistem dirancang untuk bersifat “terbuka”, seperti Internet (tidak ada batas fisik dan kontrol terpusat, perkembangan jaringan (internetworking) yang amat cepat; (2) aspek keamanan yang belum banyak dimengerti oleh pengguna dan menempatkan keamanan sistem pada prioritas yang rendah; dan (3) kurangnya keterampilan pengamanan.

Makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan data (Backward Analysis), identifikasi  kerawanan data pada transaksi bisnis, identifikasi metoda pengamanan data, serta identifikasi isu kode etik nasional dan internasional dengan mengambil studi kasus pada SBU Kemitraan PT Sierad Produce Tbk.

Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di        “SINI”

Referensi di dapat dari blog dengan link di bawah ini :

blog telah di komentari, dan beberapa komentar sedang menuggu moderasi.

1.  http://irma14.blogspot.com/2008/09/dasar-dasar-keamanan-komputer.html

2.  http://www.insightbytes.com/blog/requirement-analysis-to-assess-web-analytics-tool%E2%80%99s-business-compatibility/

3.  http://maizarti.wordpress.com/2011/03/13/teknik-pengaman-data/

4.  http://muhammadadri.wordpress.com/2009/11/01/materi-1-sistem-informasi-manajemen/

5.  http://putrisoraya.multiply.com/journal/item/12

6.  http://ratz3x.wordpress.com/2010/07/03/database-management-system/

7.  http://tbmdb.blogspot.com/2011/02/alex-osterwalder-on-designing-business.html?showComment=1311607395055#c8205714849692201737

8.  http://ibehbandito.wordpress.com/keamanan-data-dan-informasi/#comment-44

9.  http://aditbudy.wordpress.com/2010/12/13/keamanan-informasi/

10.  http://hendy212.wordpress.com/2010/04/11/isu-isu-etika-biomeidis/#comment-4

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada era global saat ini persaingan di bidang bisnis sangat ketat, termasuk di dalamnya mengenai kualitas produk, harga, ketepatan pengiriman serta ketersediaan produk di pasaran. Perusahaan dituntut untuk melakukan berbagai hal yang berkaitan dengan hal seperti enterprice resources planning, customer relationship management, enterprise application integration, supply chain management dan enterprice collaboration systems.

Fungsi berbagai hal tersebut menjadi semakin penting ketika perusahaan dituntut untuk menyediakan produk atau jasa yang tepat, pada tempat yang tepat, waktu yang tepat, dan kondisi yang diinginkan.

Pengembangan fungsi yang dimiliki oleh perusahaan saat ini sangat tergantung pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). TIK telah merubah paradigma bisnis perusahaan dari bisnis secara fisik menjadi electronic business yang biasa disebut dengan e-Business Systems.

Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku bisnis merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja. Penerapan TIK pada bidang bisnis telah banyak digunakan untuk mendukung aktivitas yang terjadi pada perusahaan, baik yang menghasilkan produk ataupun jasa. Teknologi informasi dan komunikasi misalnya dengan hadirnya aplikasi-aplikasi dan layanan e-Bussiness, e-Commerce, e-Banking dan lain-lain. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi juga telah menyebabkan perubahan pada kebiasaan kerja. Misalnya penerapan TIK pada supply chaim managament (SCM) dan enterprice integration/collaboration system.

Supply chain management yang menggunakan e-Business Systems dapat diterapkan untuk mengintegrasikan manufaktur, pemasok, retailer, dan penjual secara efisien sehingga barang dapat diproduksi dan didistribusikan dengan jumlah yang tepat dan biaya keseluruhan yang minimum. Untuk menghasilkan supply chain yang efektif dan efisien perlu dibuat peta sistem logistik dan distribusi secara keseluruhan yang digunakan untuk melihat perilaku pergerakan aliran produk yang ditujukan untuk pendistribusian yang terjadi disetiap elemen. Dengan menggunakan e-Business koordinasi antar pihak-pihak dalam supply chain dapat dilakukan dengan mudah yang pada akhirnya menciptakan pelayanan yang memenuhi harapan dari para konsumen.

Selengkapnya dapat dilihat pada paper yang telah diupload…

Document | PDF

Bab 13 Analisis Hubungan antara persepsi Popularitas, Persepsi Kualitas, Persepsi Harga dengan Merek Teh Celup yang Dikonsumsi*

Summarized by Angga Prabowo ( Graduated Program of Management and Business, Bogor Agriculture University, Bogor Indonesia )

Based on Ujang Sumarwan, et all (2009). Pemasaran Strategik :

Analisis Hubungan antara persepsi Popularitas, Persepsi Kualitas, Persepsi Harga dengan Merek Teh Celup yang Dikonsumsi*

The purposes of this study were to examine consumers’ perception toward tea brands’ popularity, quality, price and tea brand consumed; and to analyze the relationships among those variables. This study used the theory of brand equity. The data were collected from 238 respondents in Bogor in 2002. Frequency and descriptive statistics were used to analyze the single variable. Cross tabulations and chi squares were utilized to examine the relationships between two variables. The results of the study showed that tea brand that was the most popular perceived by the respondents was SariWangi followed by Sosro. Respondents also perceived SariWangi to be expensive, and LIPTON in the second place. The majority of respondents drink SariWangi, and then Sosro. There were significant relationships between perception of popularity and tea brand consumed, and between perception of quality and tea brand onsumed. Significant association was also found between perception of popularity and perceptio of quality.

Latar Belakang

Pada era globalisasi ini, perubahan yang terjadi semakin cepat membawa tantangan-tantangan baru dalam bidang manajemen. Perubahan seperti umur produk makin pendek, teknologi makin cepat usang, cara pendekatan, sistem dan cara berpikir makin cepat ketinggalan jaman menuntut perusahaan atau institusi publik untuk lebih sering melakukan pembaruan. Pembaruan produk, pembaruan jasa, pembaruan sistem, pembaruan cara pendekatan, pembaruan cara berpikir atau pembaruan paradigma. Ini berarti sebuah institusi mendapat tekanan yang lebih besar untuk melakukan kreasi atau inovasi secara terus menerus kalau institusi itu ingin tetap hidup dan berkembang. Sebuah institusi perlu mencari cara atau mengembangkan lingkungan yang dapat membuat setiap anggotanya dengan senang hati mengerahkan semua potensi kreatifnya secara terus menerus.

Dari sinilah kemudian muncul apa yang dinamakan pengetahuan. Pengetahuan dari organisasi dapat menjadikan organisasi tersebut memahami tujuan keberadaannya. Diantara tujuan yang terpenting adalah bagaimana organisasi memahami cara mencapai tujuannya. Organisasi-organisasi yang sukses, adalah organisasi yang secara konsisten menciptakan pengetahuan baru dan menyebarkannya secara menyeluruh didalam organisasinya, dan secara cepat mengadaptasinya kedalam teknologi dan produk serta layanan mereka. Melihat perannya yang begitu penting bagi suatu organisasi, maka semua pengetahuan yang dimiliki oleh suatu organisasi harus dikelola dengan baik, sehingga pengetahuan tersebut dapat berperan optimal untuk organisasinya. Bentuk dan kemampuan organisasi dalam mengelola pengetahuan sangat mempengaruhi kualitas pengetahuan yang dihasilkan dan juga akan mempengaruhi kualitas hubungan atau integrasi di antara komponen-komponennya.

Dewasa ini pengetahuan menjadi sumberdaya institusi yang utama untuk menciptakan nilai. Sekarang para praktisi dan pakar manajemen menyaksikan peran yang sangat besar dari modal yang bersifat maya (virtual) dalam menciptakan kesejahteraan. Modal maya ini mencakup modal intelektual, modal sosial, dan kredibilitas. Dalam lingkungan yang sangat cepat berubah, modal maya inipun mengalami keusangan, sebab itu perlu terus menerus diperbarui. Proses pembaruan ini dilakukan melalui proses belajar. Namun belajar dalam era ledakan pengetahuan seperti sekarang ini sangatlah berbeda dengan belajar setengah abad yang lalu. Anggota-anggota atau warga sebuah institusi dituntut untuk bisa belajar bersama-sama dengan cepat, dengan mudah, dengan gembira, kapan dan dimana saja. Hal ini yang menjadi salah satu pendorong dari berkembangnya konsep organisasi belajar. Demikian juga pengetahuan yang melekat pada anggota suatu institusi perlu diperbarui, diuji, dimutahirkan, dialihkan, diakumulasikan, agar tetap punya nilai. Hal ini menyebabkan para praktisi dan pakar manajemen mencari pendekatan untuk mengelola pengetahuan yang sekarang dikenal dengan manajemen-pengetahuan.

Sejarah Knowledge Management

Istilah Knowledge Management baru marak digunakan sekitar tahun 1990. Walaupun pemikiran mengenai manajemen pengetahuan telah ada pada tahun-tahun sebelumnya.

Perkembangan Knowledge Management banyak dipengaruhi oleh perubahan waktu, ekonomi, sosial, dan teknologi. Globalisasi membawa kesempatan baru dan peningkatan kompetisi yang merupakan tantangan bagi organisasi-organisasi. Awalnya organisasi-organisasi terutama organisasi bisnis, mencoba mendongkrak produktifitas dan keuntungan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan teknologi jaringan. Knowledge Management pun sempat diidentikan dengan teknologi informasi.

Gupta dan Govidrajat (2000) menyangkal pernyataan itu dalam penelitiannya. Menurut mereka hal yang paling menentukan dalam keefektifan manajemen pengetahuan yaitu kondisi ekologi sosial organisasi yang meliputi budaya, struktur, sistem informasi, sistem penghargaan, proses, manusia, dan kepemimpinan.

Perkembangan manajemen pengetahuan sendiri tidak lepas dari perkembangan pengetahuan. Donald Clark membagi sejarah pengetahuan ke dalam empat kategori, yaitu:

1.  Teknologi

2. Era

3.  Paradigma

4.  Struktur pengetahuan

Knowledge management

Secara umum, manajemen pengetahuan merupakan pendekatan yang dilakukan untuk mengelola pengetahuan yang dimiliki oleh individu ataupun organisasi. Pengelolaan yang dimaksud adalah identifikasi, pencarian, penyimpanan, kolaborasi, proses, dan sebagainya yang memiliki tujuan tertentu seperti penciptaan sesuatu hal yang baru.

Manajemen Pengetahuan atau Knowledge Management (KM) dimaksudkan untuk mewakili pendekatan terencana dan sistematis untuk menjamin penggunaan penuh dasar pengetahuan organisasi, ditambah keahlian, kompetensi, pemikiran, inovasi, dan ide individual potensial untuk menciptakan organisasi yang lebih efisien dan efektif dalam konteks organisasi, banyak ahli yang mengemukakan definisi mengenai Knowledge Management.

Para ahli mendefinisikan Knowledge Management sebagai berikut :

  • Laudon and Laudon (2002:372-3) menyatakan bahwa Knowledge Management berfungsi meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar dari lingkungannya dan menggabungkan pengetahuan ke dalam proses bisnis. Knowledge Management adalah serangkaian proses yang dikembangkan di dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memeliharan dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut.
  • “Knowledge Management is a broad concept that addresses the full range of processes by which an organization deploys knowledge. These involve the acquisition, retention, storage, distribution and use of knowledge in an organization” (Burstein & Linger, 2003).
  • Clyde Holsapple : “Knowledge Management is an entity’s systematic and deliberate efforts to expand, cultivate, and apply available knowledge in ways that add value to the entity, in the sense of positive results in accomplishing its objectives or fulfilling its purpose. The entity’s scope may be individual, organizational, Trans organizational, national, etc” (Holsapple & Joshi, 2004)
  • HarvardCollege (1999)

Knowledge Management (KM) merupakan suatu proses terformat dan terarah dalam mencerna informasi yang telah dimiliki suatu perusahaan dan mencari apa yang
dibutuhkan oleh masing-masing individu didalam perusahaan tersebut untuk kemudian memfasilitasinya agar mudah diakses dan selalau tersedia bilamana dibutuhkan” (Sembel & Santoso, 2002 ,hal 195 ).

  • Amrit Tiwana

Knowledge Management (KM) merupakan pengelolaan pengetahuan secara terorganisasi untuk membuat nilai bisnis dan membangkitkan keuntungan yang bersaing”(Tiwana, 2000, hal 5).

  • Kirk Klassion

Knowledge Management (KM) merupakan kemampuan untuk membuat dan menguasai nilai tinggi dari inti persaingan bisnis” (Tiwana, 2000, hal 5).

  • ABC’s of Knowledge Management” Megan Santosus dan Jon Surnaz menyatakan:

“Unfortunately, there’s no universal definition of KM, just as there’s no agreement as to what constitutes knowledge in the first place. For this reason, it’s best to think of KM in the broadest context”.

  • Karl Eric Sveiby sebagai seorang pionir manajemen pengetahuan menyatakan

tidak menyukai istilah “manajemen pengetahuan”. Menurutnya, pengetahuan adalah kecakapan manusia, tidak ada yang bisa mengelola kecuali oleh individunya sendiri. Ia menyarankan ungkapan “Memfokuskan Pengetahuan” (to be Knowledge Focused) atau melihat dunia dengan “Perspektif Pengetahuan” (Knowledge Perspective). Baginya manajemen pengetahuan adalah seni menciptakan nilai dari asset tak berbentuk (intangible asset).

  • James Boomer dalam artikelnya Finding Out What Knowledge Management Is- And Is’n’t (Accounting Today, New York: Aug 9-Aug 22, 2004.Vol.18, Iss. 14; pg. 22, 2 pgs) mengartikan manajemen pengatahuan sebagai berikut:

“Knowledge management is a process to embrace knowledge as a strategic asset to drive sustainable business advantage and promote a “one firm” approach to identify, capture, evaluate, enhance and share a firm’s intellectual capital.”

(Manajemen pengetahuan adalah suatu proses merangkul pengetahuan sebagai aset strategis agar dapat terus menerus memacu keuntungan bisnis dan mempertimbangkan pendekatan “sebuah perusahaan” untuk mengidentifikasi, menangkap, mengevaluasi, meningkatkan dan membagi modal intelektual perusahaan) (Boomer, 2004).

Dari beberapa definisi di atas, dapat dipahami bahwa Knowledge Management atau Manajemen Pengetahuan adalah bagaimana sebuah organisasi mengelola pengetahuan yang dimiliki dan bagaimana organisasi membangun sebuah pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dan di distribusikan kepada seluruh aspek organisasi untuk mencapai visi dan misi perusahaan.

Prinsip-prinsip Knowledge Management (KM)

Di dalam KM dikenal prinsip-prinsip yang disebut tacit dan eksplisit.

Jenis pengetahuan tacit :

1.      Tacit yang ada di dalam masing-masing orang, pribadi-pribadi, bersifat unik, tidak tertulis, tapi diketahui.

2.      Tacit yang ada di dalam sekelompok orang yaitu pengetahuan yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang namun sifatnya masih tidak terlihat dan ada di dalam pikiran kelompok itu.

Contoh yang kerap digunakan adalah orang bermain bola, mereka saling mengoper secara refleks tanpa komunikasi yang bisa dilihat bentuknya. Ini terjadi karena diantara mereka ada pengetahuan yang sifatnya tidak tertulis.

Pengetahuan Eksplisit :

Kalau pengetahuan yang sifatnya tacit ini kemudian dikeluarkan, ditulis atau direkam, maka sifatnya lantas menjadi eksplisit. Bentuk pengetahuan ekspisit ini berupa :

1.      Bentuk eksplisit yang dimiliki secara pribadi. Biasanya dalam bentuk catatan, buku harian, alamat teman, fotokopi dan segala bentuk eksplisit yang disimpan perorangan secara pribadi.

2.      Bentuk eksplisit yang dipakai bersama-sama oleh sekelompok orang dalam bentuk tulisan tangan sampai internet. Dengan kata lain pengetahuan eksplisit yang di-share atau dibagikan agar dapat dikses oleh banyak pihak.

Kegiatan Manajemen Pengetahuan atau KM adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan proses perubahan dari tacit pribadi menjadi tacit milik bersama, dari tacit milik bersama jadi eksplisit, dari eksplisit jadi tersimpan. Semua prosesproses ini berlaku dalam proses kerja, kehidupan, sosial, politik dan lain-lain. KM mengurus dalam konteks inovasi, perubahan dan dokumentasi.

Model Knowledge Management

Knowledge Management adalah hal yang luas dan kompleks di bidang manajemen, hal ini menyebabkan beberapa ahli membangun model untuk manajemen pengetahuan. Knowledge Management dilakukan dalam sistem pengelolaan pengetahuan, atau Knowledge Management System. Sebagian besar perusahaan yang menerapkan KMS, menggunakan pendekatan tiga-cabang untuk mengelolanya, yaitu:

  • Manusia (People)
  • Proses (Process)
  • Teknologi (Technology)

Aktifitas-aktifitas yang sangat penting bagi proses penciptaan pengetahuan dan inovasi seperti :

  • Knowledge Exchange
  • Knowledge Capture
  • Knowledge Reuse
  • Knowledge Internalization

Secara keseluruhan, proses ini menciptakan sebuah organisasi pembelajaran (learning organization) yaitu sebuah organisasi yang memiliki keahlian dalam penciptaan, perolehan, dan penyebaran pengetahuan serta mengadaptasikan aktifitasnya untuk merefleksikan pemahaman dan inovasi baru yang didapat.

Sedangkan dimensi kedua terdiri dari elemen yang memungkinkan atau mempengaruhi aktifitas penciptaan pengetahuan, yaitu:

  • Strategy : Penyelarasan strategi organisasi dengan strategi Knowledge Management
  • Measurement : Pengukuran atau penilaian dengan cara menentukan apakah terjadi perbaikan Knowledge Management atau apakah ada manfaat yang telah diambil
  • Policy : Aturan tertulis yang telah dibuat oleh organisasi sebagai dasar melakukan kegiatan operasional organisasi
  • Content : Bagian dari Knowledge-Base Organisasi yang ditangkap secara elektronik
  • Process : Proses yang digunakan oleh Knowledge Worker di organisasi, dalam tujuan mencapai misi dan visi organisasi
  • Technology : Teknologi yang dijadikan sebagai fasilitator atau media antara proses identifikasi, penciptaan, dan difusi pengetahuan diantara elemen-elemen organisasi.
  • Culture : Lingkungan dan konteks dalam organisasi.

Banyak para ahli yang telah berusaha untuk mendefinisikan proses-proses Knowledge Management. Contohnya nonaka dan Takeuchi (1995) menggambarkan 4 proses konversi pengetahuan:

  1. Sosialisasi
  2. Eksternalisasi
  3. Kombinasi
  4. Internalisasi

Selain itu, Oluic-Vukovic (2001) menguraikan 5 langkah dalam rantai proses pengetahuan:

  • Pengumpulan
  • Penyusunan
  • Penyaringan
  • Penyampaian
  • Penyebaran

France Bouthillier dan Kathleen Shearer (2002) memutuskan bahwa proses pengidentifikasian atau pengelompokkan terhadap aktifitas-aktifitas akan membantu tanpa memperdulikan masalah-masalah konseptual yang telah disebutkan sebelumnya.

Penemuan melibatkan penempatan pengetahuan internal ke dalam organisasi. Organisasi besar yang tersebar secara geografis, non hirarki sadar bahwa proses pengumpulan pengetahuan ini berguna terutama ketika satu bagian dari organisasi tidak mengetahui pengetahuan yang terdapat dalam bagian lainnya. Sedangkan perolehan atau penambahan berkaitan dengan membawa pengetahuan ke sebuah organisasi dari sumber eksternal. Penciptaan pengetahuan baru dapat dikerjakan dalam berbagai cara.

Setelah pengetahuan telah dikumpulkan, lalu harus disimpan dan dibagikan. Berbagi pengetahuan melibatkan pemindahan pengetahuan dari satu orang ke seseorang lain.

Fokus dari Knowledge Management tidak hanya pada pendistribusian tidak juga pada penyebaran pengetahuan, tetapi pada pembagiannya. Meskipun pengetahuan dapat di peroleh pada tahapan individu, agar dapat berguna harus dibagikan dalam suatu komunitas, yang seringkali digambarkan sebagai komunitas praktek.

Contohnya, jika terdapat hanya satu orang yang mengetahui aturan dan prosedur organisasi, aturan dan prosedur seperti itu akan menjadi tidak berguna dan tak berarti. Disisi lain, aturan dan prosedur berasal dari komunitas dan ada dengan tepat untuk mengatur aktifitas kelompok. Berbagi pengetahuan (knowledge sharing) kemudian menjadi krusial ketika anggota baru datang dan yang lain keluar.

Tipe Knowledge Management.

Projek Knowledge Management (KM) dapat diklasifikasikan dalam beberapa tipe yaitu :

  1. Mengumpulkan dan menggunakan ulang pengetahuan terstruktur.
    Pengetahuan sering tersimpan dalam beberapa bagian dari output yang dihasilkan organisasi / perusahaan, seperti design produk, proposal dan laporan proyek, prosedur prosedur yang sudah dimplementasikan dan terdokumentasikan dan kode-kode software yang mana semuanya dapat dipergunakan ulang untuk mengurangi waktu dan sumber yang diperlukan untuk membuatnya kembali.
  2. Mengumpulkan dan berbagi pelajaran yang sudah dipelajari (lessons learned) dari praktek-praktek.
    Tipe projek ini mengumpulkan pengetahuan berasal dari pengalaman yang
    harus diinterpretasikan dan diadopsi oleh user dalam kontek yang baru. Proyek ini biasanya melibatkan sharing pengetahuan atau pelajaran melalui database.
  3. Mengidentifikasi sumber dan jaringan kepakaran.

Projek ini bermaksud untuk menjadikan kepakaran lebih mudah terlihat dan mudah diakses bagi setiap karyawan. Dalam hal ini adalah untuk membuat fasilitas koneksi antara orang yang mengetahui pengetahuan dan orang yang membutuhkan pengetahuan.

  1. Membuat struktur dan memetakan pengetahuan yang diperlukan untuk meningkatkan performansi.
    Projek ini memberikan pengaruh seperti pada proses pengembangan produk
    baru atau disain ulang proses bisnis dengan menjadikan lebih explisit atau terbuka dari pengetahuan yang diperlukan pada tahap-tahap tertentu.
  2. Mengukur dan mengelola nilai ekonomis dari pengetahuan.

Banyak perusahaan mempunyai aset intelektual yang terstuktur, seperti hak paten, copyright, software licenses dan database pelanggan. Dengan mengetahui semua aset-aset ini memungkinkan perusahaan untuk membuat revenue dan biaya untuk perusahaan.

  1. Menyusun dan menyebarkan pengetahuan dari sumber-sumber external. Perubahan lingkungan bisnis yang cepat dan tidak menentu telah meningkatkan kepentingan dan kesungguhan pada business intelligence system.

Dalam proyek ini perusahaan/organisasi berusaha mengumpulkan semua laporan dari luar yang berhubungan dengan bisnis. Dalam projek ini diperlukan editor dan analis untuk menyusun dan memberikan konteks terhadap informasi-informasi yang diperoleh tersebut.

Tujuan Penerapan Knowledge Management

Penerapan KM akan memberikan pengaruh terhadap proses bisnis perusahaan:

  1. Penghematan waktu dan biaya.

Dengan adanya sumber pengetahuan yang terstruktur dengan baik, maka perusahaan akan mudah untuk menggunakan pengetahuan tersebut untuk konteks yang lainnya,
sehingga perusahaan akan dapat menghemat waktu dan biaya.

  1. Peningkatan aset pengetahuan.

Sumber pengetahuan akan memberikan kemudahaan kepada setiap karyawan untuk memanfaatkannya, sehingga proses pemanfaatan pengetahuan di lingkungan perusahaan akan meningkat, yang akhirnya proses kreatifitas dan inovasi akan terdorong lebih luas dan setiap karyawan dapat meningkatkan kompetensinya.

3.    Kemampuan beradaptasi.

Perusahaan akan dapat dengan mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis yang terjadi.

  1. Peningkatan produktfitas.

Pengetahuan yang sudah ada dapat digunakan ulang untuk proses atau produk yang akan dikembangkan, sehingga produktifitas dari perusahaan akan meningkat.

Knowledge Networks System (KNS)

Knowledge Networks System (KNS) merupakan sistem Knowledge Management (KM) yang bertujuan mendukung proses peningkatan kompetensi dari setiap anggota yang terlibat dalam jaringan pengetahuan. KNS secara umum dibagi kedalam dua modul utama yaitu direktori pengetahuan dan transfer pengetahuan. Kedua modul ini yang dipadukan untuk mendukung proses peningkatan kompetensi dari setiap anggota dalam bidang pengetahuan
yang menjadi fokus dan interestnya.

Direktori Pengetahuan merupakan klasifikasi dari pengetahuan, sedangkan transfer pengetahuan merupakan proses yang diadopsi untuk mendukung proses-proses penyebaran pengetahuan terjadi, seperti pelatihan, forum diskusi, artikel, chatting, email, kontak langsung
kepada pakar. Sehingga KNS dapat diterapkan dalam bidang apa saja, sesuai dengan interest dari satu kelompok atau organisasi yang menerapkannya. Karena KNS lebih terfokus kepada proses peningkatan kompetensi, maka sistem ini lebih cocok diterapkan dalam lembaga atau departemen yang berhubungan dengan pelatihan, pendidikan dan juga SDM.

Penciptaan Pengetahuan

Seperti yang diusulkan Nonaka (1991), sebuah perusahaan yang ingin menjadi knowledge-creating company haruslah menempatkan proses penciptaan pengetahun ditengah-tengah strategi sumber daya manusianya (Sembel & Santoso, 2002, hal 45). Ada dua jenis pengetahuan yang harus dikelola :

  1. Pertama adalah pengetahuan explicit (explicit knowledge) yang merupakan salah satu bentuk pengetahuan yang sangat formal dan sistematis. Pengetahuan explicit adalah pengetahuan yang telah disusun dalam format tertentu dan biasanya telah terdokumentasi. Pengetahun jenis ini lebih mudah dikomunikasikan dan didistribusikan.
  2. Jenis lain adalah tacit knowledge, yang terdiri dari keahlian teknis,know-how dan dimensi kognitif lainnya seperti model  mental, kepercayaan, perspektif, pengalaman masa lalu. Pengetahuan jenis ini sangat sulit untuk dituangkan dalam bentuk formal. Oleh karena itu sulit untuk mengkomunikasikannya kepada orang lain.

Pada dasarnya pengetahuan diciptakan dari pengetahuan yang telah ada dan Nonaka (1991) memaparkan adanya empat pola dasar penciptaan pengetahun yang mungkin terjadi di dalam sebuah organisasi, seperti terlihat di gambar dibawah ini


Gambar Empat pola dasar penciptaan pengetahuan dalam organisasi

  1. Apprentice

Pola ini umumnya terjadi secara natural di dalam perusahaan pada saat seorang staf senior diminta oleh kepala bagian untuk membimbing seorang staf yang baru bergabung. Staf unior tersebut akan mengamati apa saja yang dilakukan oleh sang senior, menirunya, dan berlatih melakukan hal-hal yang telah ditunjukan oleh seniornya. Pola ini dapat terjadi untuk pembelajaran keahlian teknis ataupun hal-hal yang lebih bersifat konsep seperti kebiasaan-kebiasaan dalam perusahaan.

Yunior akan membangun pengetahuan tacit-nya sendiri dari pengamatan yang dilakukannya, pengamatan yang dilakukan atas prilaku sang senior yang merupakan pencerminan pengetahuan tacit-nya sendiri. Pola seperti ini cukup efektif untuk mentor masing-masing pribadi, tetapi tidak dapat berkontribusi secara signifikan kepada seluruh perusahaan.

  1. Combine

Pola ini terjadi pada saat seorang staf membaca dokumen-dokumen yang ada seperti laporan dan studi kasus perusahaan untuk kemudian menghasilkan dokumen baru yang merangkum serta bersisi gagasan-gagasan baru. Demikian pula penciptaan pengetahuan eksplisit baru dari pengetahuan explicit yang telah ada.

  1. Articulate

Perusahaan harus dapat memfasilitasikan proses pembelajaran dimana para knowledge-worker harus dapat mengartikulasikan pengetahuna tacit yang dimiliki mereka dan mengubahnya kedalam kebentuk eksplisit dan menyimpannya untuk kemudian didistribusikan ke seluruh organisasi.

  1. Internalize

Staf lain akan membaca pengetahuan eksplisit tersebut dan mulai menginternalisasikannya ke dalam pengetahuannya.

Pada kedua pola terakhir, articulate dan internalize, sistem manajemen pengetahuan (KMS) memegang peranan yang cukup signifikan. Disini KMS berfungsi untuk memfasilitasikan terjadinya kedua pola tersebut secara efisien dan efektif.

Keuntungan-keuntungan Management Knowledge

MenurutSantosus dan srmach (2001), serta Beijerse (1999) keuntungan KM :

  • Meningkatkan inovasi dengan mendorong keluarnya ide-ide baru
  • Meningkatkan service kepada pelanggan dengan menyingkatkan response time
  • Meningkatkan tingkat retensi karyawan dengan mengenali nilai dari karyawan
  • Mengurangi operator dan menekan biaya dengan menghilangkan efisiensi
  • Meningkatkan posisi dalam pasar dengan lebih cerdas dalam pasar
  • Meningkatkan keberlangsungan perusahaan
  • Meningkatkan persainga kelompok
  • Membuat karyawan professional semakin efisien dan efektif
  • Menyediakan dasar yang lebih baik dalam pembuatan keputusan seperti membuat atau membeli tekhnologi atau merger
  • Meningkatkan komunikasi antar pekerja
  • Meningkatkan sinergi antar pekerja
  • Memastikan knowledge pekerja tinggal dalam perusahaan
  • Membuat perusahaan fokus pada core business dan knowledge penting dalam perusahaan

Penutup

  • KM sebagai suatu spirit yaitu pendekatan dari hati ke hati
  • Ide harus fleksibel
  • Buat dari data, informasi knowledge menjadi knowledgeable, knowledge creator/creating
  • langkah pertama adalah merubah mindset di seluruh jajaran organisasi mengenai pentingnya share data, informasi dan aplikasi KM
  • mampu interkoneksi (globalisasi) di lokal atau di organisasi dulu baru bicara globalisasi, mau diakses dan perlu Visi yang tajam
  • ingin tahu lebih dominan unggul di iptek dan sharing data, informasi dan knowledge menuju ke wisdom
  • budaya “learning and sharing “ ditumbuhkan dan dimulai dari yang sangat kecil, diri sendiri, dan sekarang
  • Knowledge worker inti dasar adalah knowledge
  • Tetap memelihara intelektual dengan banyak membaca perkembangan di bidangnya masing-masing dan menghasilkan suatu knowledge
  • Memelihara spirit dengan cara voluntary
  • Mengembangkan knowledge based system

Welcome to Blog Mahasiswa MB IPB. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging! Url your blog Blog Mahasiswa MB IPB

Search
Categories
Archives

You are currently browsing the archives for the Uncategorized category.